Rabu, 02 Juni 2010

Perilaku Konsumtif

PERILAKU KONSUMTIF PADA REMAJA

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kehidupan manusia dalam kesehariannya tidak lepas dari kebutuhan konsumsi, yakni pemakaian barang-barang (produksi). Kebutuhan adalah kekurangan, artinya ada sesuatu yang kurang dan oleh karena itu timbul kehendak untuk memenuhi atau mencukupinya. Kehendak ini dapat disamakan pula dengan tenaga pendorong supaya berbuat sesuatu, bertingkah laku. Banyaknya tuntutan atas kebutuhan diharapkan agar manusia mampu memilah-milah mana barang yang hendak dikonsumsi, karena tidaklah semua barang yang ada di pasaran harus dibeli sehingga berakibat pada perilaku konsumtif.
Remaja sering dijadikan target pemasaran berbagai produk industri, antara lain karena karakteristik mereka yang labil, spesifik dan mudah dipengaruhi sehingga akhirnya mendorong munculnya berbagai gejala dalam perilaku membeli yang tidak wajar. Membeli tidak lagi dilakukan karena produk tersebut memang dibutuhkan, namun membeli dilakukan karena alasan-alasan lain seperti sekedar mengikuti mode, hanya ingin mencoba produk baru, ingin memperoleh pengakuan sosial dan sebagainya.
Remaja merupakan obyek yang menarik untuk diminati oleh para ahli pemasaran. Kelompok usia remaja adalah salah satu pasar yang potensial bagi produsen karena remaja biasanya mudah terbujuk rayuan iklan, suka ikut-ikutan teman, tidak realistis, dan cenderung boros dalam menggunakan uangnya, lebih mudah terpengaruh teman sebaya dalam hal berperilaku dan biasanya lebih mementingkan gengsinya untuk membeli barang-barang bermerk agar mereka dianggap tidak ketinggalan zaman.
Bagaimanapun perilaku membeli yang berlebihan, lepas kendali tidak lagi mencerminkan usaha untuk memanfaatkan uang secara ekonomis, apabila dibiarkan terus menerus akan sangat berbahaya, sebab akan membawa dampak negatif yakni mengeluarkan uang tanpa perhitungan. Anak-anak muda memiliki kecenderungan berperilaku konsumtif. Terlihat pada pola konsumsi yang berlebihan, dikarenakan keinginannya untuk mengangkat wibawa diantara teman-teman sebayanya. Mereka menganggap bahwa kelompok sosial menilai dirinya berdasarkan antara lain pada benda -benda yang dimiliki dan banyaknya uang yang dibelanjakan. Hal ini membuat mereka cenderung berupaya untuk meningkatkan status dirinya melalui pembelian barang-barang yang dapat mencerminkan peningkatan simbol statusnya dengan tanpa berfikir untuk bersikap hemat.

B. Tujuan
Kegiatan bimbingan dan konseling ini dilakukan sebagai sarana pembelajaran bagi mahasiswa yang khususnya tengah mempelajari mata kuliah Studi Kasus. Hal ini dilakukan agar para mahasiswa mendapatkan pembelajaran langsung dengan melakukan praktek melakukan bimbingan dan konseling dengan menentukan diagnosis dan langkah-langkah penanganan yang tepat sesuai dengan kondisi remaja yang mengalami kesulitan atau permasalahan tersebut.

C. Sasaran
Bimbingan konseling yang dilakukan ini dikhususkan bagi remaja dengan perilaku konsumtif

II. LANDASAN TEORETIS
Masa remaja merupakan masa yang penuh dengan permasalahan, statemen ini sudah dikemukakan jauh pada masa lalu di awal abad ke-20 oleh bapak Psikologi Remaja yaitu Stanley Hall. Pendapat Stanley Hall pada saat itu adalah bahwa masa remaja merupakan masa badai dan tekanan (storm and stress). Selain itu juga masih banyak beberapa kalangan yang menyatakan bahwa masa remaja merupakan masa pencarian jati diri. Berkaitan dengan klasifikasi usia remaja, terdapat beberapa pendapat seperti menurut Hurlock (1981) remaja adalah mereka yang berada pada usia 12-18 tahun. Monk, dkk (2000) memberi batasan usia remaja adalah 12-30 tahun, sedangkann menurut Stanley Hall (dalam Santrock, 2003) usia remaja berada pada rentang 12-23 tahun. Berdasarkan batasan-batasan para ahli juga dapat dilihat bahwa mulainya masa remaja relatif sama, tetapi berakhirnya masa remaja sanagt variatif hal ini sangat berkaitan dengan kecakapan atau kemampuan remaja dalam pemenuhan kapaasitas diri sebagai sosok orang dewasa.
James F. Engel (dalam Mangkunegara, 2002: 3) ”mengemukakan bahwa perilaku konsumtif dapat didefinisikan sebagai tindakan-tindakan individu yang secara langsung terlibat dalam usaha memperoleh dan menggunakan barang-barang jasa ekonomis termasuk proses pengambilan keputusan yang mendahului dan menentukan tindakan-tindakan tersebut.
Perilaku konsumtif bisa dilakukan oleh siapa saja. Fromm menyiratkan bahwa manusia zaman ini terpesona oleh kemungkinan membeli dan membeli, terutama barang-barang baru. Manusia lapar akan konsumsi, tindakan membeli dan mengkonsumsi telah menjadi tujuan irasional dan kompulsif, karena tujuannya terletak pada membeli itu sendiri tanpa hubungan sedikitpun dengan manfaatnya atau dengan kesenangan dalam membeli dan mengkonsumsi barang-barang. Perilaku konsumsi individu yang tidak mencerminkan usaha untuk memenuhi kebutuhan akan tetapi lebih kepada keinginannya maka perilaku seperti ini oleh para ahli disebut sebagai perilaku yang tidak rasional, dimana perilaku ini lebih menonjolkan pada penampakan gengsi atau status individual. Keputusan pembelian yang didominasi oleh faktor emosi menyebabkan timbulnya perilaku konsumtif. Hal ini dapat dibuktikan dalam perilaku konsumtif yaitu perilaku membeli sesuatu yang belum tentu menjadi kebutuhannya serta bukan menjadi prioritas utama dan menimbulkan pemborosan.
Berdasarkan aspek-aspek yang dikemukakan Fromm, maka dapat disimpulkan bahwa karakteristik umum perilaku konsumtif yakni:
1. Pembelian Yang Impulsif
Adalah pembelian yang dilakukan tanpa rencana. Pembelian dibagi menjadi dua yakni pembelian yang disugesti (sugesti buying) dan pembelian tanpa rencana berdasarkan ide saran orang lain. Sedangkan pembelian pengingat adalah pembelian tanpa rencana yang berdasarkan pada keinginan saja.
2. Pembelian Yang tidak Rasional
Adalah pembelian yang dilakukan berdasarkan motif emosional, yang berkaitan dengan perasaan atau emosi seseorang seperti rasa cinta, kenyamanan. kebanggaan, kepraktisan dan status sosial. Perbedaan dengan faktor rasional yang menekankan pada kebutuhan yang sesungguhnya.
3. Pembelian yang bersifat pemborosan
Adalah pembelian dengan mengeluarkan uang yang digunakan untuk hal-hal yang kurang diperlukan.

Sheth, mengindikasikan perilaku konsumtif sebagai compulsive buying dan compulsive consumptions yaitu:
1. Compulsive buying
Sebagai suatu tendensi kronis untuk membeli produk secara berlebihan dan melampaui kebutuhan dan sumber daya seseorang. Seorang compulsive buyer cenderung senang (bahkan keranjingan) berbelanja, selalu membeli item-item yang mungkin dia sendiri tidak pernah memakainya (terutama barang-barang yang sedang diobral) dan bahkan membeli produk yang sesungguhnya diluar batas kemampuan finansialnya.
2. Compulsive Consumptions
Didefinisikan sebagai respon terhadap dorongan atau hasrat yang tidak terkendali untuk mendapatkan, menggunakan atau mengalami suatu perasaan, substansi atau aktivitas yang menyebabkan individu secara berulang terlibat dalam perilaku yang akhirnya dapat merugikan dirinya sendiri atau orang lain.
Johnstone, mengemukakan tipe-tipe konsumen remaja yakni :
1. Remaja amat mudah terpengaruh oleh rayuan penjual
2. Mudah terbujuk rayuan iklan, terutama pada kerapian kertas bungkus (apalagi jika dihiasi dengan warna-warna yang menarik)
3. Tidak berfikir hemat
4. Kurang realistis, romantis dan mudah terbujuk (impulsif).
Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumtif ada dua, yaitu internal dan eksternal :
1. Faktor Internal. Faktor internal ini juga terdiri dari dua aspek, yaitu faktor psikologis dan faktor pribadi.
a) Faktor psikologis, juga sangat mempengaruhi seseorang dalam bergaya hidup konsumtif
b) Motivasi, dapat mendorong karena dengan motivasi tinggi untuk membeli suatu produk, barang / jasa maka mereka cenderung akan membeli tanpa menggunakan faktor rasionalnya.
c) Persepsi, berhubungan erat dengan motivasi. Dengan persepsi yang baik maka motivasi untuk bertindak akan tinggi, dan ini menyebabkan orang tersebut bertindak secara rasional.
d) Sikap pendirian dan kepercayaan. Melalui bertindak dan belajar orang akan memperoleh kepercayaan dan pendirian. Dengan kepercayaan pada penjual yang berlebihan dan dengan pendirian yang tidak stabil dapat menyebabkan terjadinya perilaku konsumtif.
2. Faktor Eksternal / Lingkungan. Perilaku konsumtif dipengaruhi oleh lingkungan di mana ia dilahirkan dan dibesarkan. Variabel-variabel yang termasuk dalam faktor eksternal dan mempengaruhi perilaku konsumtif adalah kebudayaan, kelas sosial, kelompok sosial, dan keluarga.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar